Selamat Membaca

Sabtu, 19 Mei 2012

GORESAN TANPA AWAL



     Tak tau apa yang akan ku tulis. Deretan huruf tak beraturan didepanku, satu detik, satu menit, apa yang akan ku tulis. Tak tau! Aku bukan petarung pena. Aku bukan penari kata. Siapa aku? Aku pun tak tau! Berapa lama lagi ku mampu pandangi layar kosong tanpa goresan? Satu huruf, satu kata, satu kalimat. Tapi dengan segera layar itu kembali kosong. Dimana kalimat tadi? Entahlah!

Sempat ku diam.

     Konsentrasiku buyar. Kalimat yang tersusun seakan tak mampu ku transfer dalam goresan-goresan tinta hitam. Sempat ku ingin menyerah, berhenti, mungkin ini bukan bidangku. Aku mulai diam lagi. Kali ini tak kupandangi layar putih kosong.

     Ya. Ini hidup. Ini hidupku. Awalnya memang kosong. Indah atau tidak hasilnya nanti tergantung apa yang akan ku tulis, apa yang akan ku gambar. Awalnya mungkin memang aku ingin menulis ini, menulis itu, menulis apa yang sudah ada dalam benakku, ingin segera ku transfer dalam layar itu. Tapi, ternyata bukan semua itu yang tergores dalam layar kosong itu. Ini hidup, ya kehidupan memang harusnya begini. Kenyataan tak seperti apa yang di inginkan.

     Tak tau mulai dari mana, tak tau akan bagaimana. Pena menari-nari berdansa dengan jari-jariku, begitu kompaknya. Mereka tinggalkan kesan-kesan yang entah apa intinya. Tak tau! Kuperhatikan lagi mereka, tetap berdansa dengan mesranya, semakin banyak yang dia goreskan. Aku tersenyum. Tapi tetap tak tau apa artinya ini. Yang ada hanyalah beberapa kata baris membentuk sebuah kisah tak tentu.

Aku mulai diam.

Kenapa semua memandangiku seperti ini? Mereka seakan berkata “Kau bodoh!”

     Kulihat lagi. Kanan. Kiri. Depan. Belakang. Siapa? Hanya hembus angin menjawab dengan sangat sopan. Ternyata aku sendiri. Mulai ku berbalik lagi, layar tak lagi putih. Apa yang aku tulis? Apa ini? Siapa? Tak tau! Selalu saja begini, pertanyaan yang berujung pada jawaban hampa. Aku bertanya, dan aku pula yang menjawab.

     30 menit berlalu dan aku masih tak tau apa yang terjadi. Semua mulai hilang. Suara tak lagi terdengar. Aku berteriak, tapi kenapa aku tak mendengar? Aku bergerak, tapi kenapa aku diam? Mataku mulai terbuka, masih terpejam. Kenapa semua menjadi hampa seperti ini? Goresan warna yang susah payah aku buat hilang tanpa arah. Semudah itu kah? Diam.

     Mulai ku ayunkan jemari kecil ini, berdansa dengan pena yang tak tau entah apa yang terjadi. Aku mulai bosan dengan keadaan yang seperti ini. Aku selalu memulai tapi belum sampai kulihat hasilnya semua menjadi hilang kembali. Apa aku juga yang mengakhiri ini?

     Goresan tanpa awal. Segala sesuatu memang harus ada awalnya, tapi kenapa ini tidak? Ya, kenyataan baru mulai kudapatkan. Tak semua hal ada awal dan akan ada akhirnya. Semua menjadi rancu saat kau pikir setiap yang berakhir itu selalu ada awalnya. Tak tentu! Kenapa? Aku tak tau!

     Goresan tanpa awal. Jika tanpa awal kenapa kau bisa mencoba untuk mengeja apa yang tergores? ini hidup kawan. Tak semua jalan selalu kau inginkan. Semua berjalan se natural mungkin. Darimana asal air sungai itu? Kenapa bisa mengalir? Dimana sumbernya? Kenapa bisa menjadi sumber dari aliran sungai? Mengapa itu bisa terjadi? Stop! Tak akan selesai. Ini hidup kawan, kau tak bisa protes apa yang sudah digariskan. Sudahlah, ini adalah jalan untuk dilewati sebaik mungkin, jangan terlalu memikirkan hal yang tak akan merubah apapun. Waktu tak akan menunggumu. Kau teruskan langkahmu, atau kau akan kehilangan semuanya.

Kembali. Aku mulai diam lagi. Layar di depanku kini sudah putih kembali. Kemana? Entahlah.

     Suasana hening seketika. Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku mendengar suara-suara tawa kecil didepanku. Aku pun mendengar teriakan dibelakangku. Bisikan hangat terdengar jelas di sampingku. Kucoba mendengar lebih tajam, semua menjadi lebih samar terdengar. “Suara angin” pikirku.

     Kuteruskan lagi menari bersama ditempat yang sudah beberapa menit aku tempati. Kulihat lagi lembaran putih didepanku, hanya satu kata, “KAMU”. Ah, pikiranku kembali membuka lemari-lemari yang sudah usang, entah berapa lama aku tak membukanya. Buku-buku yang sudah menua kubuka perlahan. Satu buku, dua, tiga, dan ah, sungguh banyak memori ini tersimpan dalam memori yang terkunci dengan debu. Sudah tertata rapi, tapi kenapa kini aku juga yang membukanya lagi? Bodoh!

    Ragaku tersedot dalam memori yang lebih dalam. Entah dimana aku sekarang, tapi yang terasa hanya gelap. Kulihat seorang lelaki, wajahnya pucat, entah kenapa. Ku perhatikan lagi. Oh, dia sedang menata buku-buku yang akupun tak tau apa isinya. Satu buku. Oh, ternyata tidak! Dua. Enam! Ah entahlah, tak tau berapa. Susah payah dia masukkan buku itu dalam sebuah lemari kecil. Keluar satu, masukkan lagi buku yang lain. Keluarkan lagi. Dimasukkan lagi buku yang lain. Tak hanya sekali dia mengulangi kegiatan bodohnya itu. Siapa dia? Apa yang dia lakukan? Entahlah!

     Ku perhatikan lagi dia. Dia mulai diam. Aku diam. Suasana hening dan gelap seperti ini sudah biasa bagiku. Tapi, pertanyaan masih saja memberontak dalam benakku. Siapa dia? Kenapa cuma buat menata buku-buku itu, dia mau bersusah payah seperti itu? Tinggal dimasukkan bukunya. Selesai! Kenapa dikeluarkan lagi? Aku diam. Semua seakan menjadi terang dalam sekedip mata. Aku? Mungkinkah diriku? Dimana aku sekarang? Lagi. Tak ada yang menjawab. Entahlah!

Semua menjadi gelap. Hilang entah dimana.

     Goresan tanpa awal. Tak tau kenapa semua bisa terjadi. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku, tapi semua terjawab dalam satu kata. “Entahlah!”

     Teori-teori dalam hidup sudah biasa. Omong kosong menjadi hal yang wajar. ‘Hidup berawal dari mimpi’. Ya benar. Tapi, ada statement ‘Kadang hidup memang tak seperti apa yang diinginkan’ , tak bisa disanggah juga statement seperti itu. Kenyataan emang tak selalu seperti teori hidup. Ini sebuah realita, kadang berfikirlah seperti seorang anak jalanan, ‘hidup adalah untuk hari ini saja’. Tapi, entahlah. Masing-masing individu punya prinsip dan teorinya sendiri. Semua orang berhak merasa benar, berhak ngrasa bahagia, berhak menjadi makhluk yang bebas. Semua ada porsinya masing-masing. Entahlah!
     Goresan tanpa awal. Ini memang goresan tanpa awal. Tak tau kapan aku memulai semua omong kosong ini, tapi kenapa juga aku tak bisa tutup semua tinta yang sudah menetes. Lagi, aku mulai diam. Awalnya aku memang ragu bisa nggak sih aku bermain sulap, merubah layar putih ini menjadi berpadu dengan goresan hitam? Entahlah!

     Tapi sekarang, ternyata semua itu nggak sia-sia. Layar tak lagi kosong, huruf-huruf berbaris dengan rapi, tak ada lagi gladi kotor, tak ada lagi gladi bersih. Semua berbaris begitu saja. Indah.

     Ternyata, goresan ini seakan berbisik padaku, jika kita mau kita pasti mampu. Tak ada akhir jika tak ada awal, tak ada awal jika memang tak dimulai. Semua sudah bergandengan sesuai sistem kehidupan yang ada. Yang penting berusaha, kita pasti bisa. Yang penting kita bisa mencoba, kita akan tau hasilnya. Hasil memang penting. Tapi bukankah proses juga tak bisa dianak tirikan?

     Jangan tanyakan apa yang sudah, tapi jalani apa yang ada. Jangan terlalu berharap nanti, nanti dan nanti. Tapi, lihatlah dulu apa yang didepanmu. Naik ke tingkat kehidupan selanjutnya tak bisa instan. Naik dulu tangga satu per satu. Itu akan lebih ringan dari pada kita terlalu memikirkan bagaimana sampai langsung ke atas. Semua ada proses, semua ada awal dan semua pasti akan berakhir.

     Goresan tanpa awal. Tak tau lagi apa yang akan terjadi. Omong kosong ini tak ada arti. Terbingkai begitu saja, dan akan hancur seketika. Jangan terlalu berharap, tapi jangan pula berhenti berharap. Semua ada sistemnya, semua ada jalannya masing-masing.

Goresan tanpa awal ini tak sengaja aku buat. Untukmu yang melihat sisi lain dari warna hitam. Goresan ini aku akhiri tanpa aku awali.




jhorendra.


Salam payah!!! waningalah.blogspot.com

Minggu, 25 Maret 2012

INI BUKAN SEBUAH KISAH


Ternyata aku jahat juga. Udah hampir 2 bulan udah nggak ngurusin blog ini. Masih inget kenapa dulu aku belajar ngeblog, gara-gara dulu abangku punya blog, ngutak-atik blog tiap hari. Jadi pengen deh, kayaknya asik. Nah, aku penasaran ikut-ikutan buat blog, jadinya lahir deh blog ini. Pada tanggal berapa ya lupa. J

Mulai saat itu, mulai deh ngepost di blog ini. Berjam-jam cari materi, cari informasi. Buka sana, buka sini. Ngedit materi satu-satu. Dan dulu emang pas waktu liburan, nggak punya kerjaan. Tapi sekarang, udah mulai sibuk sekolah lagi, modem jarang di isi pulsa. Nggak ada waktu buat cari materi lagi, jadinya semakin kesini jadi jarang merhatiin blog ini.

Tujuan awal buat blog ini emang mau ngumpulin informasi-informasi yang emang aku anggap bagus dan bermanfaat. Jadinya waktu temen-temen bilang nyuruh aku nulis sendiri, buat karya sendiri, enggak terlalu tak perhatiin deh. Dasarnya emang aku nggak terlalu suka kalo hasil karyaku diliat banyak orang. Bukannya malu, bukannya nggak suka nulis. Tapi nggak tau kenapa, nggak suka aja kalo banyak yang baca. Banyak pertimbangannya J

Kadang-kadang iri sama 2 blog ‘tetangga’. Yang sampai sekarang masih bisa konsisten ngepost karya mereka, walaupun nggak sering, tapi konsisten ngurus blog mereka, minimal satu bulan pasti ada satu karya yang mereka posting. Nggak perlu nyebut yaa nama 2 blog ‘tetangga’ itu apa, ndak kalah eksis ini blog, masak mau promo blog mereka, tapi nggak dibayar? Hehehe

Bukannya mau ngritik, bukan mau ngasih pujian, atau apa lah namanya, tapi aku Cuma salut aja sama 2 ‘tetangga’ku ini, dengan ciri khas mereka masing-masing, mereka bisa konsisten ngepost di blog mereka, dan dengan karya sendiri. Ya ini nih yang nggak bisa aku tiru, ‘ngepost karya sendiri’. Trus satu lagi, sama 1 blog yang lagi jadi ‘idola’ temen-temenku, isinya subhanallah... itu bisa-bisanya punya imajinasi yang hebat gitu ya, makan apa tu penulisnya. Jadi pengen nulis. Nggak mau kalah sama mereka-mereka.

Tapi, sayang seribu sayang. Tiap mau nulis, ada aja godaannya. Imajinasi sih banyak, cerita udah ada, tinggal ngrangkai jadi kata trus jadi kalimat, jadi paragraf, abis itu jadi cerita yang utuh itu yang susah. Kalo mau cerita pengalaman atau apa lah. Ini bukan style gue bro !  blog ini bukan tempat curhat, dan aku juga nggak sampai hati kalo mau curhat di blog, kayak blog tetangga tuh. hehehe *piss yaa kawan, nggak maksud apa-apa :D *moga aja nggak tau :D

Tiap udah nulis, berhenti ditengah jalan, trus lupa jalan ceritanya. Gitu terus dari dulu. Akhirnya sampai pada titik jenuh deh, nggak mau nulis! Dan bersyukurnya, sebelum mau bener-bener berhenti, ada satu tulisan nih kemaren, karya dari *sensor* yang udah buat aku semangat lagi nulis. Tapi tetep aja, nggak jadi-jadi. *mutung ._.v

Eh kok malah jadi curhat ya? Hehehe. Udah deh udah.

Sekali lagi ini bukan cerita, ini bukan curhat, dan tidak sedang nggalau.  Itung-itung ini jadi pembukaan aja deh buat postingan yang selanjutnya, dan aku udah punya seorang penulis yang tak mintain tolong buat ngisi blog ini, tunggu aja apa yang dia tulis.

Sudah cukup....... END !


jhorendra.


SALAM PAYAH !!! waningalah.blogspot.com

Sabtu, 28 Januari 2012

10 HANTU INDONESIA YANG PALING DITAKUTI

Hantu, memang makhluk halus itu benar-benar ada di kehidupan kita. Kita juga perlupercaya terhadap keberadaan makhluk halus. Tapi, hantu pribumi dengan tipe kuntilanak, pocong, tuyul, dan teman-temannya mungkin hanyalah sebuah mitos saja, atau bahkan nyata? Nyata atau hanya mitos, tipe-tipe hantu semacam itu memang dipercayai keberadaannya di masyarakat. Dan tiap daerah-daerah di Indonesia memiliki hantu “khusus”. Langsung saja, mari kita simak 10 hantu Indonesia yang paling ditakuti keberadaanya :



10. Palasik

Pelesit (bahasa Minangkabau: Palasik) menurut cerita, legenda atau kepercayaan orang Minangkabau adalah sejenis makhluk gaib. Menurut kepercayaan Minangkabau, palasik bukanlah hantu tetapi manusia yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Palasik sangat ditakuti oleh ibu-ibu di di Minangkabau yang memiliki balita karena makanan palasik adalah anak bayi/balita, baik yang masih dalam kandungan ataupun yang sudah mati (dikubur), tergantung dari jenis palasik tersebut. Ilmu palasik dipercayai sifatnya turun-temurun. Apabila orang tuanya adalah seorang palasik, maka anaknya pun akan jadi palasik. Pada umumnya palasik bekerja dengan melepaskan kepalanya. Ada yang badannya yang berjalan mencari makan dan ada pula yang kepalanya yang melayang-layang mencari makan.
Jenis pelesit ada bermacam-macam. Menurut jenis makanannya pelesit dapat dibagi sebagai berikut:
- Yang memakan bayi dalam kandungan sehingga bayi tersebut lahir tanpa ubun-ubun / mati dalam kandungan
- Yang memakan bayi yang masih rapuh sehingga bayi tersebut sering sakit-sakitan / meninggal
- Yang memakan mayat bayi yang sudah dikubur

Pelesit yang lepas kepalanya disebut pelesit kudung.
Palasik / Pelesit fakta atau mitos?





9. Kuyang

Kuyang adalah manusia yang sedang menimba ilmu hitam demi kehidupan yang abadi atau merupakan siluman berwujud kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit dan anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi. Makhluk ini dikenal masyarakat di Kalimantan.
 
Sosok kuyang tidak jauh beda dengan hantu kepala namun kuyang tidak hanya berbentuk kepala melainkan kepala yang dapat terbang dengan isi perut yang terburai. Sebagian besar yang mendalami ilmu hitam ini adalah wanita. Konon seseorang yang menimba ilmu kuyang, pada siang hari akan tampak layaknya manusia biasa akan tetapi selalu memakai penutup leher untuk menutupi semacam bekas operasi atau memakai jubah karena katanya pada malam hari, kepalanya akan terlepas dari tubuhnya.

Kuyang sangat gemar memakan janin dari ibu yang sedang hamil atau pun baru melahirkan,ini disebabkan karena menurut kepercayaan dengan memakan janin tersebut,kekuatan kuyang akan semakin kuat.Dalam mencari mangsanya yaitu ibu hamil, kuyang akan berubah menjadi wanita biasa dan menemui calon mangsanya. Kemudian kuyang akan mengelus-ngelus perut dari ibu hamil tersebut dan besoknya janin yang dikandung akan hilang secara mendadak karena pada malam harinya telah dimakan oleh kuyang. Selain itu, kuyang bisa berubah menjadi burung atau kucing.

Bila saat ini anda tinggal di kalimantan dan sedang dalam keadaan hamil maka siapkanlah sapu ijuk,atau perabot rumah tangga seperti panci atau wajan, ini berfungsi sebagai penangkal kuyang. Karena katanya,kuyang takut terhadap benda-benda tadi.
Kalau anda sedang tidak beruntung alias didatangi kuyang, pukulkan benda-benda tadi ke kuyang dan kuyang pun akan segera pergi menjauhi anda.

Kuyang, mitos atau fakta?




8. Rangda

Wajahnya menakutkan dan memiliki gigi yang tajam.
Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda.
Sebutan janda dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda.

Perkembangan selanjutnya istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.

Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik. Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Manendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. 

Menurut legenda, ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga. Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak. Nama Rangda berarti juga janda. Rangda sangatlah penting bagi mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam tari-tarian. Tari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku panjang.




7. Leak

Dalam mitologi Bali, Leak adalah penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Leak hanya bisa dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor harimau, kera, babi atau menjadi seperti Rangda. Bila perlu ia juga dapat mengambil organ dari orang hidup.

Diceritakan juga bahwa Leak dapat berupa kepala manusia dengan organ-organ yang masih menggantung di kepala tersebut. Leak dikatakan dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah bayi yang masih di kandungan. Ada tiga leak yang terkenal. Dua di antaranya perempuan dan satu laki-laki.

Menurut kepercayaan orang Bali, Leak adalah manusia biasa yang mempraktekkan sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup. Dikatakan juga bahwa Leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api, sedangkan bentuk Leak yang sesungguhnya memiliki lidah yang panjang dan gigi yang tajam. Beberapa orang mengatakan bahwa sihir Leak hanya berfungsi di pulau Bali, sehingga Leak hanya ditemukan di Bali.

Apabila seseorang menusuk leher Leak dari bawah ke arah kepala pada saat kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka Leak tidak dapat bersatu kembali dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu, maka Leak akan mati.
Topeng leak dengan gigi yang tajam dan lidah yang panjang juga kadang-kadang digunakan sebagai hiasan rumah.




6. Wewe Gombel

Wewe Gombel adalah sebuah istilah dalam tradisi Jawa yang berarti roh jahat atau hantu yang suka mencuri anak-anak, tapi tidak mencelakainya. Konon anak yang dicuri biasanya anak-anak yang ditelantarkan dan diabaikan oleh orang tuanya. Wewe Gombel biasanya akan menakut-nakuti orang tua si anak atas sikap dan perlakuannya kepada anaknya sampai mereka sadar. Bila mereka telah sadar, Wewe Gombel akan mengembalikan anaknya.

Menurut cerita, Wewe Gombel adalah roh dari seorang wanita yang meninggal bunuh diri lantaran dikejar masyarakat karena telah membunuh suaminya. Peristiwa itu terjadi setelah suami dari wanita itu berselingkuh dengan wanita lain. Sang suami melakukan hal itu karena istrinya tak bisa memberikan anak yang sangat diharapkannya. Akhirnya ia dijauhi dan dibenci suaminya lalu dikucilkan sampai menjadi gila dan gembel. Disebut Wewe gombel karena kejadian in terjadi di daerah Gombel, Semarang. Jika kita berkendaraan dari arah jatingaleh ke arah banyumanik, maka akan terlihat bekas iklan bir bintang. Di situlah konon letak lokasi wewe gombel berada. Beberapa orang menyebutkan bahwa lokasi tersebut adalah lokasi kerajaan hantu. Menurut cerita itu pula, hal itu yang menyebabkan sebuah hotel yang terletak di dalam lokasi bukit gombel menjadi bangkrut.

Tetapi, menurut cerita yang lain, mitos Wewe Gombel dipercayai digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak agar mereka tidak berkeliaran di waktu malam hari. Ini disebabkan pada masa lalu, keadaan gelap gulita amat berbahaya karena hewan buas mungkin memasuki kawasan perkampungan dalam kegelapan malam. Dengan itu Wewe Gombel diciptakan untuk menyelamatkan mereka daripada ancaman tersebut. Wewe Gombel biasanya digambarkan dengan sosok wanita tua keriput dengan susu/payudara yang terlihat keluar panjang menjijikkan.




5. Genderuwo

Genderuwo adalah sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh. Genderuwo terutama dikenal dalam masyarakat di Pulau Jawa (orang Sunda menyebutnya “gandaruwo” dan orang Jawa menyebutnya “gendruwo”). Habitat hunian kegemarannya adalah batu berair, bangunan tua, pohon besar teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap. Pusat domisili makhluk ini dipercaya berada di Hutan Jati Donoloyo, kecamatan Sloghimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri, dan di wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo sekitar 60 km ke barat Yogyakarta.




4. Pocong


Penggambaran pocong bervariasi. Dikatakan, pocong memiliki wajah berwarnah hijau dengan mata yang kosong. Penggambaran lain menyatakan, pocong berwajah rata dan memiliki lubang mata berongga atau tertutup kapas dengan wajah putih pucat. Mereka yang percaya akan adanya hantu ini beranggapan, pocong merupakan bentuk protes dari si mati yang terlupa dibuka ikatan kafannya sebelum kuburnya ditutup. Meskipun pocong dalam film-film sering digambarkan bergerak melompat-lompat, mitos tentang pocong malah menyatakan pocong bergerak melayang-layang. Hal ini bisa dimaklumi, sebab di film-film pemeran pocong tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga berjalannya harus melompat-lompat.

Keadaan ini pula yang menimbulkan suatu pernyataan yang biasa dipakai untuk membedakan pocong asli dan pocong palsu di masyarakat: “Lihat saja cara berjalannya. Bila berjalannya melompat-lompat, lempar saja dengan batu, pasti akan teriak-teriak.” Kepercayaan akan adanya hantu pocong hanya berkembang di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Walaupun penggambarannya mengikuti tradisi muslim, umat beragama lain pun ternyata dapat mengakui eksistensi hantu ini.





3. Tuyul

Tuyul (bahasa Jawa: thuyul) dalam mitologi Nusantara, terutama di Pulau Jawa, adalah makhluk halus berwujud anak kecil atau orang kerdil dengan kepala gundul. Penggambaran lainnya yang tidak disepakati semua orang adalah kulit berwarna keperakan, bersifat sosial (dalam pengertian memiliki masyarakat dan pemimpin), serta bersuara seperti anak ayam. Tuyul dapat dipekerjakan oleh seorang majikan manusia untuk alasan tertentu, terutama mencuri (uang). Untuk menangkal tuyul, orang memasang yuyu di sejumlah sudut rumah karena tuyul dipercaya menyukai yuyu sehingga ia lupa akan tugas yang dibebankan pemiliknya.

Kejadian tuyul dipercaya berasal dari janin orang yang keguguran atau bayi yang mati ketika lahir. Karena berasal dari bayi, karakter tuyul juga seperti anak-anak: gemar bermain (seperti laporan orang melihat sejumlah tuyul bermain pada tengah malam). Kemungkinan besar tuyul juga sejenis alien.




2. Sundel Bolong

Sundel bolong (dalam bahasa melayu: sundal bolong)  dalam mitos hantu Indonesia digambarkan dengan wanita berambut panjang dan bergaun panjang warna putih. Digambarkan pula terdapat bentukan bolong di bagian punggung yang sedikit tertutup rambut panjangnya sehingga organ-organ tubuh bagian perut terlihat. Dimitoskan hantu sundel bolong mati karena diperkosa dan melahirkan anaknya dari dalam kubur. Biasanya sundel bolong juga diceritakan suka mengambil bayi-bayi yang baru saja dilahirkan.

Banyak yang menyangka bahwa Sundel Bolong sama dengan Kuntilanak, karena dalam mitosnya, keduanya digambarkan sama-sama berambut panjang dan mengenakan gaun putih. Hal yang membedakan antara penggambaran sundel bolong dengan kuntilanak adalah punggungnya yang bolong (berlubang).

Penamaan "sundel bolong" berasal dari pelafalan nusantara untuk istilah "sundal bolong". "Sundal" umumnya merujuk pada "wanita jalang" atau "pelacur", dan "bolong" adalah bahasa Jawa yang berarti "berlubang tembus" yang merujuk pada penggambaran hantu sundel bolong yang mempunyai lubang di bagian punggungnya yang terlihat tembus ke depan.





1. Kuntilanak


Kuntilanak (bahasa Malaysia: Pontianak atau Puntianak, atau sering disingkat kunti) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "puntianak" merupakan singkatan dari "perempuan mati beranak". Mitos ini mirip dengan mitos hantu langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di nusantara Indonesia. Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara.

Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian istana.

Sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kamboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak juga senang menyantap bayi dan melukai wanita hamil. Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir. Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat “bersemayam”.

Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.

Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.






Mitos atau fakta,???
semoga bisa menghibur :) 


Sumber Informasi :
- Wikipedia.com
- Google.com
- shvoong.com

SALAM PAYAH !!! http://waningalah.blogspot.com

Rabu, 21 Desember 2011

ILMU DAN KEJUJURAN

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

Apa yang pertama kali muncul di benak kita setelah membaca hadist di atas? Ya, sekolah. Sudah diwajibkan bagi seorang muslim untuk menuntut ilmu. Walaupun menuntut ilmu bukan berarti harus bersekolah, misalnya dengan menghadiri pengajian, membaca buku, “berselancar” di dunia maya, dan sebagainya, tapi di dunia modern seperti sekarang ini akan menjadi percuma bila kita tak bersekolah dan “mendapatkan ijazah”.


Ya, seakan telah melupakan tujuan utama dari bersekolah (read : menuntut ilmu), kini para siswa modern yang bersekolah di jaman “pasca modern” ini seakan-akan telah di cuci otaknya. Bersekolah tidak lagi sebagai ajang untuk menuntut ilmu, sebagian dari mereka mempunyai jalan pikiran yang sudah dibilang wajar untuk masa-masa sekarang ini, salah satunya adalah hanya untuk “mencari ijazah”. Miris? Ya, sangat miris. Tapi inilah yang telah terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa di sebagian kalangan para pelajar modern.

Masih adakah pelajar yang menanamkan niat yang benar di jalan yang lurus? Masih! Masih banyak. Mereka yang mampu menanamkan hadist ini dalam hati mereka, Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami). Bukan sepenuhnya para “pelajar” tersebut yang salah, lingkungan, teman seperjuangan, keluarga, dan motivasi diri. Ya, itu beberapa faktor yang perlu diperhatikan jika ingin pelajar Indonesia menjadi lebih baik.

Oke, tulisan ini bukanlah tulisan dari seorang yang ahli, penulis dari tulisan ini bisa dibilang seorang yang newbie di dunia tulis-menulis. Di awali dengan hal yang bisa dibilang tanpa kesengajaan untuk menulis dengan tema ini, penulis mencoba menyusun kata yang diketahuinya. Berawal dari kalimat “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”, hal yang pertama yang terngiang di pikiran penulis adalah tujuam menuntut ilmu, dan kejujuran dalam menuntut ilmu.

Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im)


Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali (Shahih Tirmidzi)


Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)


Tiga hadist di atas mengingatkan kepada saya dengan seorang sahabat saya yang mungkin termasuk dalam salah satu “orang aneh” yang ada di sekolah, bukan aneh dalam arti umum, tapi dia salah satu pelopor kejujuran dalam belajar. Hanya pelopor kejujuran? Hei, itu lebih dari cukup, melihat apa yang terjadi di dunia pendidikan untuk saat ini. Kejujuran seolah-olah menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan modern untuk saat ini. Tak bisa di pungkiri lagi, tidak mudah untuk melakukan hal yang jujur dalam dunia pendidikan. Tapi dia, dialah salah seorang sahabat saya yang bisa “melewati ujian” dengan sangat memuaskan, dan amat sangat bisa di banggakan.

Bukankah hal tersebut adalah suatu prestasi yang membanggakan? Trus, kenapa kita tidak mencontoh sahabat-sahabat kita yang “aneh” itu? Kata salah seorang sahabat saya, “Semua hasil yang saya dapatkan ini sangat memuaskan, bukan bagus atau tidaknya, tapi karena saya mengerjakan semua ini sendiri, jeripayahku, kejujuranku.”

Dan, akan lebih baik lagi apabila ilmu yang sudah kita dapatkan bisa kita bagi kepada sahabat-sahabat kita yang belum mengerti. Hadist-hadist diatas sudah cukup jelas untuk dijadikan pedoman kita dalam menuntut ilmu. Dan jangan lupa, kejujuran dalam menuntut ilmu juga sangat penting. Jika kita mau, kita pasti bisa.

“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan Muslim, teks hadis mengikuti versi Muslim)

Dengan memulai kejujuran dari dalam diri kita sendiri, kita pasti akan bisa merubah “tradisi” yang sudah melekat di dunia pendidikan kita. Kejujuran adalah kunci dari semuanya. Sekedar mengingatkan lagi pada hadist dibawah ini,

“Sesungguhnya berita yang akan disampaikan oleh bumi ialah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, sama ada lelaki ataupun perempuan terhadap apa yang mereka lakukan di atasnya. Bumi akan berkata: Dia telah melakukan itu dan ini pada hari itu dan ini. Itulah berita yang akan diberitahu oleh bumi.” (Hadis riwayat Imam Tirmizi).

Kita adalah generasi penerus bangsa kawan. Kita yang akan memegang Indonesia di masa mendatang. Marilah perlahan-lahan kita kurangi “tradisi” yang sudah melekat pada diri kita sendiri, kita susun karakter bangsa kita. Perlahan-lahan kita bisa menghapus KKN di Indonesia dengan menanamkan karakter JUJUR, MULAI SAAT INI.
Lift your chin, puffed chest, saying “I can”. We certainly can if we want and we try. FOR INDONESIA, FOR OUR FUTURE!!


Special thanks to my best friends who has inspired me
By : Rendra Muhammad

sumber : zonainovasi.com

SALAM PAYAH !!! waningalah.blogspot.com

Terima kasih sudah berkunjung

 

padepokan abu-abu Copyright © 2015 -- Powered by jhorendra